Logo Siaga Peduli

Menjemput Senyum yang Hilang dari Kisah Perjuangan Pengungsi Kota Lintang Bawah dan Lubuk Sidup, Aceh

22 Jun 2026Nur Halim12 tayangan
Menjemput Senyum yang Hilang dari Kisah Perjuangan Pengungsi Kota Lintang Bawah dan Lubuk Sidup, Aceh

Aceh, Riak banjir memang telah surut, namun bagi warga Kota Lintang Bawah dan Lubuk Sidup di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Hingga hari ini, kondisi ekonomi masyarakat masih lumpuh dan jauh dari kata pulih. Kehilangan harta benda dan rusaknya mata pencaharian membuat pemenuhan kebutuhan paling mendasar terutama pangan menjadi perkara yang sangat sulit setiap harinya.


Akibat rumah yang belum layak huni dan keterbatasan biaya untuk berbenah, sejumlah warga terpaksa harus bertahan hidup di dalam tenda-tenda pengungsian darurat. Di tengah impitan ekonomi dan panasnya atap terpal, harapan mereka bergantung pada uluran tangan sesama.


Merespons kondisi kritis ini, Siaga Peduli kembali bergerak ke garis depan. Kali ini, tim relawan menyisir langsung titik-titik pengungsian di Kota Lintang Bawah dan Lubuk Sidup, Sekerak, untuk mengantarkan "hadiah" berupa paket sembako bagi para penyintas banjir.


Kehadiran tim Siaga Peduli yang datang membawa paket bahan pokok menjadi angin segar di tengah keputusasaan warga yang mulai kehabisan stok makanan. Paket berisi beras, minyak goreng, dan kebutuhan dapur lainnya diserahkan langsung dari tenda ke tenda.


Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa bantuan menyasar langsung ke tangan keluarga yang benar-benar membutuhkan dan berada di lokasi yang sulit dijangkau. Bagi para pengungsi di Kota Lintang Bawah dan Lubuk Sidup, bantuan ini bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan suntikan moral bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit ini.


"Untuk makan sehari-hari saja kami harus hemat sekali karena suami belum bisa bekerja normal lagi semenjak banjir. Alhamdulillah, hari ini Siaga Peduli datang mengantarkan hadiah sembako. Bantuan ini sangat berarti bagi dapur kami yang sempat mati," ungkap salah seorang ibu penyintas di posko Lubuk Sidup dengan mata berkaca-kaca.

Bagikan:WhatsAppFacebookX